Dalam kancah gulat nasional, bahu merupakan salah satu sendi yang paling rentan namun paling vital. Di Nusa Tenggara Barat, para pelatih yang tergabung dalam PGSI Lombok telah mengembangkan protokol khusus untuk memastikan atlet mereka memiliki ketahanan fisik yang luar biasa di area ini. Fokus utama mereka adalah pada aspek Mobilitas Bahu, yang bukan hanya tentang fleksibilitas statis, tetapi tentang kemampuan sendi untuk menahan beban dan tekanan pada sudut-sudut ekstrem. Hal ini menjadi sangat krusial mengingat banyak teknik kuncian dalam gulat yang menargetkan rotasi bahu untuk memaksa lawan menyerah atau melakukan kesalahan posisi.
Mengapa mobilitas sendi ini begitu ditekankan di Lombok? Karena secara anatomis, bahu adalah sendi peluru yang memiliki rentang gerak paling luas namun tingkat stabilitas yang relatif rendah dibandingkan panggul. Atlet dari Lombok diajarkan bahwa untuk Cegah Cedera, mereka tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan otot deltoid yang besar, melainkan harus memperkuat otot-otot rotator cuff yang lebih kecil dan dalam. Otot-otot inilah yang berfungsi sebagai “penjaga gerbang” yang menjaga bonggol tulang lengan tetap berada di mangkuk sendinya saat lawan mencoba melakukan tarikan atau putaran paksa pada lengan mereka.
Teknik pertahanan yang diajarkan oleh PGSI di wilayah ini melibatkan latihan scapular controlled articular rotations (CARs). Latihan ini melatih sistem saraf pusat untuk mengendalikan setiap inci pergerakan tulang belikat dan sendi bahu. Dengan kontrol yang presisi, seorang pegulat dapat merasakan kapan sendi mereka mencapai ambang batas bahaya dan bagaimana cara menggeser posisi tubuh untuk mengurangi tekanan tersebut. Kemampuan untuk tetap rileks namun aktif di bawah tekanan kuncian adalah seni yang membedakan atlet elit dengan pemula.
Selain itu, strategi untuk menghindari Kuncian Bahu lawan tidak hanya dilakukan secara pasif. Para atlet dilatih untuk menggunakan mobilitas mereka sebagai alat ofensif. Saat lawan mencoba mengisolasi satu lengan, pegulat yang fleksibel dapat memutar bahunya sedemikian rupa sehingga menciptakan ruang untuk melepaskan diri atau bahkan melakukan serangan balik (counter-attack). Di kamp pelatihan, sering dilakukan simulasi di mana seorang atlet harus keluar dari posisi kimura atau hammerlock dengan menggunakan teknik rotasi bahu yang dinamis, yang telah terbukti efektif dalam berbagai kejuaraan.
